Kisah Inspiratif : Rahasia Membangkitkan Kemampuan dan Kompetensi Diri Kita

   

Alkisah, pada suatu hari, sekitar jam empat sore diatas dek sebuah kapal pesiar, ada seorang ibu berdiri di pinggir pagar kapal sambil berteriak-teriak : “Toloong, Tolooong, Toloooong, ... anak saya terpelanting dan tercebur ke laut! ” Para penumpang yang lain berkerumunan di sekitar ibu tadi, tetapi belum ada satupun yang berani bertindak untuk menolong. Maklum, mereka ngeri melihat air laut biru gelap yang berada sekitar 10 meter di bawah kaki mereka.  

Ditengah keraguan itu, tiba-tiba ada seorang pemuda yang terjun ke laut, lalu dengan gagah berani berenang dan berhasil mendapatkan anak kecil yang sudah pingsan dan hampir tenggelam. Singkat cerita, anak yang tercebur bersama pemuda penolong berhasil diangkat ke kapal dengan sekoci yang belakangan baru berhasil diturunkan menjemput mereka. Para penumpang yang menyaksikan kejadian itu bertepuk tangan meriah, sebagai penghargaan kepada sang pemuda.

Sang ibu dengan segera menghampiri pemuda pemberani tadi dan menyampaikan rasa terima kasihnya yang tidak terhingga, dengan suara terbata-bata dan mata berkaca-kaca. Dia yakin, tanpa kesigapan sang pemuda, anak semata wayangnya ini mungkin sudah pindah ke alam lain.

Sebaliknya, sang pemuda sambil tersipu-sipu dan terengah-engah berkata : “Bu, saya kira sebaiknya ibu mengucapkan terima kasih kepada orang yang tepat. Yaitu orang yang tadi mendorong saya. Kalau bukan karena dia, saya tidak bakalan berani melompat dari ketinggian 10 meter. Mari kita cari orang itu Bu, karena saya juga ingin menyampaikan sesuatu kepada orang tersebut.” [He he he.]

Begitulah, jika tidak karena di dorong orang lain, pemuda tadi tidak akan pernah mengetahui bahwa dirinya memiliki kemampuan dan kompetensi untuk menyelamatkan nyawa orang lain!

Saya kira, cukup banyak diantara kita yang belum mengetahui potensi maksimum dari diri kita masing-masing, hanya karena belum ada orang yang menghampiri kita dan “menyemplungkan” kita ke dalam sebuah arena yang penuh tantangan.

Orang tua kita dulu pernah memaksa kita belajar keras supaya kita menjadi bintang kelas. Belakangan kita baru bisa mensyukuri paksaan itu, setelah kita berhasil di sekolah.